Senin, 13 Januari 2014

Confession

Sudah dua tahun. Sudah dua tahun sejak terakhir aku menulis di blog ini. Sudah dua tahun sejak aku menelantarkan blog yang mestinya rutin aku isi dengan review-review buku yang kubaca.
Lalu apa yang terjadi dalam dua tahun ini? Aku masih membaca buku. Walau sudah tidak pernah mereviewnya. Aku masih hobi berbelanja buku, walau kadang tidak semuanya habis kubaca. Dan sejujurnya, novel Jacqueline Wilson yang harusnya kuterjemahkan sampai tamat belum juga aku tamatkan.
Dua tahun belakangan kehidupan kuliah yang sibuk menyiksa sebagian besar waktuku. Dan hari ini aku mendadak rindu menulis review. Aku rindu dengan semua kesibukan lamaku. Aku rindu dengan besarnya rasa cintaku pada buku seperti dulu. Karena itu hari ini, sebagai salah satu resolusi 2014 aku memutuskan kembali ke dunia blogger buku. Kembali membaca buku sampai tamat, kembali mereview, kembali menerjemahkan, kembali menyeriusi hobi yang sampai saat ini masih menjadi bagian hidupku.
Halo, 2014! :)

Selasa, 24 Juli 2012

[Translate] Kiss - Jacqueline Wilson part 1

Mulai hari ini saya akan memposting hasil terjemahan saya dari novel Kiss - Jacqueline Wilson. Kenapa saya memilih novel ini? KarenaJacqueline Wilson adalah pengarang favorit saya sejak kecil dan tujuan saya hanya ingin menyalurkan hobi membaca dan menerjemah. Enjoy it :)


SATU


Aku benci saat makan siang karena aku akan sangat merindukan Carl pada saat itu.
            Saat kami duduk di bangku sekolah menengah kami menghabiskan seluruh waktu kami bersama. Kami tergesa-gesa keluar saat bel berbunyi ,menghabiskan makan siang dalam waktu sepuluh menit, dan lalu kami memiliki banyak waktu berdua. Kami biasanya mengendap-endap ke salah satu tempat favorit kami. Saat hari cerah, kami tidur-tiduran di taman bermain atau duduk-duduk di dekat parkiran sepeda sedangkan saat musim salju kami lebih sering bersembunyi di perpustakaan. Bagiku tidak masalah di manapun kami berada asal kami bersama.
            Ada hari di mana kami tidak banyak mengobrol. Kami hanya membaca buku, bercanda, atau mengomentari banyak hal. Kadang-kadang kami menggambar bersama atau bermain permainan kertas yang konyol. Tapi seringnya kami mengarang cerita baru untuk Glassworld (Dunia Kaca). Kami berakting seakan berada di Glassworld walaupun kami tidak bisa melakukannya dengan bebas di sekolah layaknya kami biasa bermain di Pondok Kaca. Anak lain menganggap kami aneh. Saat melewati kami biasanya mereka akan mengolok-olok dan membicarakan cinta sejati Raja Carlo dan Ratu Sylviana lalu mereka akan tertawa terbahak-bahak. Kami hanya cemberut sambil mengomel sendiri sambil membuat beberapa isyarat selama semenit lalu keajaiban akan muncul dan kami akan berputar dalam kelap-kelip cahaya menuju Glassworld.
            Aku selalu shock saat mendengar suara bel yang menandakan mulainya kelas sore,. Suara itu bagai seakan menghancurkan mahkota kristal dan sepatu kaca milik kami. Dengan malas-malasan kami melewati koridor yang berbau pizza dan kembali mengenakan sneaker butut sambil berharap dapat tinggal di Glassworld selamanya.
            Aku selalu menulis Sejarah Glassworld di buku naskah kami yang besar. Carl kadang-kadang menambahkan beberapa catatan dan ilustrasi dalam naskah itu. Tapi belakangan ini kami sudah tidak pernah melakukan segala sesuatu yang berhubungan dengan Glassworld. Carl selalu memiliki PR yang membosankan. Kadang-kadang ia tidak datang ke Pondok Kaca selama beberapa hari dan aku harus menghubunginya.
            Sayangnya hal itu tidak selalu bekerja. Ia mengikutiku ke halaman dan duduk di dalam pondok bersamaku, tapi ia tidak melakukan apapun serta terus murung. Atau ia akan bersikap konyol dan menghancurkan segalanya serta berbicara dengan suara bodoh. Pada akhirnya aku akan menyuruhnya bermain dengan benar seperti biasa, tapi biasanya untuk membuat ia bersikap normal membutuhkan usaha yang keras.
            “Mungkin kamu harus berhenti mengajak Carl untuk bermain bersamamu,” kata Mom.
            “Tapi dia teman terbaikku di seluruh dunia. Kami selalu bermain bersama,” kataku.
            “Oh, Sylvie,” kata Mom. Ia mengela napas. Belakangan ini ia sering menghela napas saat berbicara denganku. “Kamu sudah terlalu besar untuk bermain berpura-pura seperti itu sekarang. Itu tidak normal. Kamu sudah empat belas tahun, demi Tuhan. Kapan kmu akan bersikap layaknya remaja?”
            “Ibu nggak tau apa-apa tentang ini,” kataku dengan … “Permainan itu bukan permainan anak kecil. Kami menulis buku berseri kami sendiri. Tunggu saja. Buku-buku itu akan diterbitkan suatu hari nanti, dan Carl dan aku akan menjadi jutawan. Kami akan mendapat uang royalty dan dari penerbit luar negeri serta kontrak film.”
            “Oh ya, jadi kamu bisa membayar hipotek kalau begitu,” kata Mom lalu ia menghela nafas lagi. “Memangnya kamu pikir kamu itu siapa? J.K. Rowling? Lagipula, Carl kelihatannya tidak terlalu bersungguh-sungguh dalam permainan—maaf, maksud Ibu menulis, belakangan ini. Kalian berdua sudah bertambah dewasa. Mungkin sudah saatnya kamu berkenalan dengan teman-teman baru. Apa kamu tidak memiliki teman di sekolah?”
            “Aku punya banyak teman,” kataku berbohong. “Aku punya Lucy. Dia temanku.”
            Aku tidak terlalu berbohong. Aku dan Lucy berteman saat hari pertama yang mengkhawatirkan di SMA Milstead. Aku mengenal dia saat duduk di bangku sekolah dasar dan menengah. Namun aku tidak merasa perlu berteman dengan gadis-gadis di sekolahku karena aku selalu memiliki Carl.
            Sekarang, saat aku duduk di kelas Sembilan rasanya sulit untuk mendapat teman baru. Sebagian besar teman-temanku berasal dari sekolah menengah yang sama denganku dulu, dan mereka sudah memiliki sahabat atau gang. Ada beberapa anak yang bukan berasal dari sekolahku, namun mereka selalu berkumpul bersama. Salah satu dari murid yang bukan berasal dari sekolahku adalah Miranda Holbein, namun ia ada di luar jangkauanku.
            Untung saja Lucy memintaku duduk di sebelahnya dan ia juga bersikap ramah. Ia adalah gadis yang suka tertawa dengan pipi merah jambu seakan ia selalu malu-malu. Ia bergabung di paduan suara dan ia sangat baik. Dia memiliki poni dan selalu mengenakan seragam berwarna putih bersih dan rok sepanjang lutut. Sepatu coklatnya yang berenda juga selalu mengilap. Dia kelihatan sama kekanakannya seperti aku. Jadi kami selalu duduk bersama di setiap kelas dan berbagi coklat dan keripik saat istirahat. Kami mengobrol tentang hal-hal yang membosankan seperti acara TV (ia menyukai segala sesuatu tentang rumah sakit dan ingin menjadi suster saat dewasa nanti) dan penyanyi terkenal (ia menyukai sejumlah boy band dengan gaya seperti anak kecil, bahkan ia hapal di luar kepala mengenai tanda lahir mereka dan makanan kesukaannya juga hapal urutan lagu di album mereka).
            Lucy lumayan juga untuk menjadi teman sehari-hari. Tapi tentu saja aku tidak akan pernah menganggapnya sebagai teman baik. Rumahnya hanya satu belokan dari sekolah jadi ia pulang saat makan siang. Rumahku sangat jauh sekali. Lagipula, Mom sangat sibuk bekerja di dinas social jadi tidak sempat membuatkan telur dan kentang untukku, seperti ibu Lucy. Aku terjebak di sekolah setiap makan siang. Kami tidak diizinkan menggunakan telepon genggam di sekolah namun aku mengirim pesan kepada Carl melalui telepati : Aku merindukanmu. Berbicaralah padaku. Sampai bertemu di GH malam ini ya?
                Kami biasanya berpura-pura selalu terhubung satu sama lain dengan telepati. Mungkin gelombang otak kami tidak bisa terhubung dengan teknologi terbaru. Tidak ada suara ching-ching di kepala Carl. Kalau saja ia pernah mengirimkan telepati yang sama untukku, namun aku tidak pernah menerimanya walaupun aku selalu siap dan sangat ingin menerima telepatinya.
                Aku sering bertanya pada Carl apa yang ia lakukan saat makan siang di Sekolah Grammar Kingsmere tapi ia biasanya tidak komunikatif. Ia hanya makan dan membaca.
                “Oh, ayolah, Carl. Ceritakan semua padaku,” kataku. “Secara teliti. Aku ingin cerita mendetail.”
                “OK. Kamu ingin aku menerangkan secara rinci tentang kunjunganku ke kamar mandi laki-laki?”
                “Berhentilah bersikap menyebalkan. Kamu tau apa maksudku. Dengan siapa kamu mengobrol? Apa yang kamu lakukan? Apa yang kamu pikirkan?”
                “Mungkin kamu akan suka membuntutiku dengan webcam,” jawab Carl. Ia tiba-tiba menyeringai dan berbicara seperti presenter TV. “Ini dia korban mata-mata kita, Carl Johnson. Ayo kita ke rumahnya. Ah! Apa yang ia lakukan sekarang? Ia mengangkat jarinya. Apakah ia menyadari kehadiran kita? Apakah ia akan memrotes acara ini? Tidak, ia memegang hidungnya. Ayo kita amati lebih dekat kotoran hidungnya.
                “Yek!”
                “Oh, teman dekat Carl, Sylvie, memberikan komentar yang tajam. Ayo focus ke Sylvie kecil. Senyum ke kamera, Sayang,” katanya sambil mengarahkan jarinya yang dibentuk persegi ke depan wajahku.
                Aku menjulurkan lidahku kepadanya.
                “Tetap seperti itu, tetap seperti itu, gadis manis! Kita sekarang berpindah ke acara favorit sepanjang masa Live Op Channel. Nona Sylvie West menderita Sindrom Lidah Tajam sejak ia kecil. Namun ahli telinga, hidung, dan tenggorokan, Dokter Carl Johnson, akan mengoperasinya. Tolong guntingnya, Suster!
                “Ya, ini dia guntinya,” kataku sambil membuka tutup jariku. “Tapi kita beralih ke acara Mystery Channel sekarang dan aku berperan sebagai gadis menakutkan yang gila karena teman baiknya yang gila jadi gadis itu memutuskan untuk—menusuk—ia—sampai—mati!
                Aku mengarahkan jari-jari guntingku menusuk dada Carl lalu ia memekik dan berjalan terhuyung-huyung kemudian terjatuh ke kakiku, menirukan orang yang mati berlumuran darah. Ia berakting dengan sangat baik sampai-sampai aku hampir melihat lautan darah berwarna merah segar.
                Aku membungkuk di atasnya sementara dia diam tak bergerak, matanya setengah membuka tapi tatapannya kosong dan ia bahkan tidak mengedipkan mata.
                “Carl? Carl!” kataku sambil menggoyangkan bahunya.
                Ia tidak bergerak dan jantungku berdetak lebih kencang. Aku merangkak mendekatinya lalu merendahkan kepalaku sampai rambutku yang panjang menggelitik pipinya. Ia masih tidak bergerak. Aku diam dan mendengarkan suara napasnya. Ia sepertinya tidak bernapas.
                “Berhenti, Carl, kau membuatku takut!” kataku.
                Dia tiba-tiba duduk tegak sehingga kepala kami berbenturan dan aku berteriak.
                “Ah, aku senang berhasil menakutimu karena kita sekarang beralih ke Horror Channel dan aku adalah hantu  yang kembali untuk mengejarmu. Jadi kau wajar ketakutan, Sylvie West, karena aku akan menangkapmu!
                Tangannya mencekik leherku lalu aku bergulat dengannya. Aku berbadan kecil dan kurus namun aku bisa melawan seperti kucing liar bila aku mau. Kami bergulat lalu Carl menggelitik leherku. Aku tertawa terbahak-bahak lalu mengelitiknya balik. Kami berbaring sambil tertawa pelan selama beberapa saat. Lalu Carl meraih tanganku dan memegangnya dengan cara special yang sudah sering kami lakukan sejak umur tujuh tahun. Aku menggenggam tangannya erat dan tau kalau kami akan tetap menjadi sahabat selamanya. Lebih daripada sahabat biasa. Kami berpura-pura melakukan pernikahan saat kami masih kecil. Carl membuatkan cincin untukku dari bungkus permen. Mungkin ia akan memberikan cincin asli suatu hari nanti.
                Bagaimana bisa aku membandingkan obrolan singkat dan ringan bersama Lucy dengan kegembiraan tak ternilai bersama Carl?
                Tidak ada gadis lain yang bisa diajak berkeliling saat makan siang. Aku makan bersama siapapun yang ada di dekatku, tapi aku tidak ingin terlalu terlibat dengan mereka. Suatu ketika saat aku sedang duduk di perpustakaan Miranda Holbein datang dan melambaikan tangan kepadaku. Aku sangat bingung dan memandang ke sekelilingku. Aku yakin ia melambai ke anak lain.
                “Aku melambai kepadamu, bodoh!” kata Miranda.
                Aku melambaikan tanganku kepadanya dengan bodoh lalu mengumpulkan buku-bukuku dan berlari keluar. Aku tidak ingin mengganggu Miranda. Kami baru masuk sekolah beberapa minggu namun ia sudah memiliki reputasi yang serius. Ia bisa mencincangmu bila ia tidak menyukai penampilanmu.
                Aku tidak menyukai penampilanku. Badanku sangat kecil sehingga orang-orang tidak percaya aku sudah kelas Sembilan. Aku kelihatan paling muda dibandingkan semua gadis di kelasku. Mereka semua memanggilku Little Titch. Aku tidak benar-benar merasa diejek. Mereka menganggapku sebagai mascot kelas—sangat imut, namun aku tidak menganggapnya serius.
                Semua orang terpesona kepada Miranda. Ia kelihatan lebih tua daripada aku dan semua anak lain. Dia kelihatan paling tidak berusia enam belas tahun, walaupun dengan seragam hijau-botolnya. Rambutnya berwarna merah terang kebiruan hasil cat rambut, walaupun mengecat rambut adalah pelanggaran di sekolah. Ia berbohong kepada Nona Michaels, bersumpah kalau setiap helai rambutnya asli. Rambutnya berjatuhan ke dagunya yang lancip, namun ia biasanya mengepang dan mengikatnya dengan manic-manik kecil dan pita.
                Saat gurunya menasihatinya karena dandanannya yang terlalu mencolok, ia mengenakan manic dan pita hijau keesokan harinya dan Nona Michaels membiarkannya!
                Miranda sepertinya dilahirkan untuk menentang semua peraturan. Ia adalah gadis yang membuat semua orang ingin meniru gayanya. Namun sebenarnya ia tidak terlalu cantik dan juga bukan termasuk anak yang super kurus. Ia juga tidak Nampak bersalah walau ia bersikap keterlaluan. Faktanya ia tampak puas dengan dirinya sendiri, sering berdiri sambil berkacak pinggang dan membuat dirinya tampak menonjol. Gadis-gadis di kelasnya berkata kalau ia tidak pernah mengenakan handuk setelah mandi. Jadi ia berdiri dengan kondisi benar-benar telanjang dan tidak peduli siapa yang memerhatikannya.
                Dia adalah murid yang pintar dan bisa mendapat peringkat pertama kalau ia mau belajar dengan serius, namun ia biasanya mengacaukan segalanya dan lupa mengerjakan PR. Ia mengetahui banyak hal dan sering mengobrol dengan guru mengenai seni, opera, atau arsitektur namun tidak ada yang mengatainya culun. Selain itu tidak ada yang mengatainya sok imut walaupun ia berbicara dengan suara rendah dibuat-buat yang biasanya akan menjadi bahan olokan. Ia kadang juga menyumpah dan tidak selalu tidak diketahui oleh guru-guru. Ia juga sering bercerita mengenai hal-hal yang ia lakukan bersama pacarnya. Ia selalu dikelilingi oleh gadis-gadis yang sering memekik, “Oh, Miranda!”
                Aku pergi ke kamar mandi wanita saat makan siang dan melihat sekumpulan gadis mengerubungi Miranda sambil tertawa. Ia berdiri di atas wastafel sambil mengayunkan kakinya yang mengenakan boot dengan ujung panjang.
                Ia sedang menerangkan apa yang ia lakukan dengan pacarnya tadi malam. Aku berhenti, pipiku memerah melihatnya. Gadis-gadis lain terkikik dan menyenggol Miranda yang tidak juga berhenti.
                “Diam, Miranda. Lihat, itu Titch.”
                “Hai, Titch,” sapa Miranda sambil melambai lagi. Jari-jarinya bekas digigiti namun ia memoles semua kukunya dengan warna hitam dan menggambar bunga mawar hitam di pergelangan tangannya. Lalu ia melanjutkan ceritanya dengan mendetail.
                “Miranda, hentikan! Wajah Titch berwarna merah padam.”
                Miranda tersenyum. “Mungkin sudah waktunya ia memelajari fakta kehidupan,” katanya. “OK, Titch. Bolehkan aku menerangkan padamu?”
                “Aku sudah tau fakta kehidupan, terima kasih,” tolakku.
                Aku sudah bersiap akan ke kamar mandi namun aku mengurungkan niatku karena aku tidak ingin masuk ke kabin dengan mereka semua di luar dan mendengarkanku.
                “Ah, kamu pasti sudah memiliki gambaran mengenai fakta-fakta­ dasar, tapi aku ragu kamu sudah mempraktekkannya,” kata Miranda.
                “Berhenti menggoda Titch, Miranda!”
                “Kayak Titch sudah pernah punya pacar saja,” kata Miranda sambil memutar matanya kepada mereka.
                “Aku memang punya pacar,” kataku dengan tegas. “Kamu tidak seharusnya mengambil keputusan sendiri. Kamu tidak tahu apa-apa tentang aku.”
                Gadis-gadis yang menyaksikanku dan Miranda mulai tertarik. Orang-orang tidak biasanya menyerang Miranda balik. Aku sangat heran karena aku berani melakukannya.
                Miranda sama sekali tidak terlihat terganggu. “Aku ingin tau semua tentangmu,” katanya. “Dan pacarmu. Ceritakan tentang dia.”
                “Namanya Carl,” kataku,
                “Dan?” Tanya Miranda. “Ayolah, Titch. Seperti apa wajahnya?”
                “Ia sangat tampan. Semua orang berkata begitu, bukan aku saja. Ia baik. Rambutnya sangat indah, pirang, dan lurus. Rambutnya menjuntai ke dahinya saat sudah memanjang. Matanya berwarna coklat dan kulitnya indah, sangat bersih tanpa luka. Dia tidak terlalu tinggi namun ia lebih tinggi daripadaku, tentu saja. Dia tidak terlalu memedulikan penampilan namun ia selalu kelihatan tampan, keren dan santai.”
                “Wow!” kata Miranda. Ia kelihatan senang mengerjaiku namun ia juga kelihatan tertarik. “Jadi bagaimana sifatnya? Orang dengan penampilan seperti itu biasanya menyebalkan.”
                “Tidak, Carl tidak menyebalkan sedikitpun. Dia sangat lucu dan pandai membuat dan menemukan benda baru. Dia sangat rajin dan jauh lebih pintar daripada aku. Ia mengetahui semua hal. Ia akan mendalami suatu hal yang ia suka terus menerus tanpa rasa bosan.”
                “Jadi sudah berapa lama kau mengenal laki-laki ini?” Tanya Miranda. “Atau apakah kamu benar-benar mengenalnya? Kamu kan suka membaca. Mungkin kamu mengarang kisah hidupmu sendiri sekarang.”
                “Yah, kayak cowok seperti itu mau jalan bareng Titch saja,” kata Alison yang adalah anak baru juga.
                “Ia benar-benar mengenalnya,” kata Patty Price. “Kami semua sekelas di sekolah menengah.”
                “Jadi ia seumuran kita,” kata Miranda. “Hanya anak kecil. Aku tidak pernah berpacaran dengan laki-laki seusiaku. Mereka sangat bodoh dan tidak dewasa.”
                “Carl tidak bodoh,” kataku.
                “Tidak, ia itu hmm … sangat pintar,” kata Patty. “Ia bersekolah di Kingsmere Grammar sekarang, ya kan, Ticth? Ia mendapatkan beasiswa special. Ia juga pintar dalam seni. Ia menggambar satu sisi tembok di sekolahku dulu—gambar kota Venice, dan karyanya seperti seniman sungguhan.”
                “Ia kedengarannya menarik,” kata Miranda. “Aku ingin bertemu dengannya. Hei, Titch, ajak dia ke tempatku nanti malam.”
                Aku menatap Miranda. Ia pasti bercanda! Gadis-gadis lain Nampak takjub saat mendengar ajakan Miranda.
                “Ya, benar,” kataku.
                “Tidak, sungguh. Kita akan berpesta. Pasti menyenangkan,” kata Miranda.
                “Oh, bolehkah aku ikut, Miranda?”
                “Boleh?”
                “Aku juga mau ikut!”
                “Hei, hei, aku mengajak Titch, bukan kalian semua. Sylvie dan pacarnya, Carl.” Miranda menyenggolku dengan ujung sepatu bootnya. “Maukah kau datang, Sylvie?”
                Tidak ada yang memanggilku Sylvie di sekolah kecuali teman-temanku. Aku sangat terkejut sampai tidak tahu mau menjawab apa.
                Aku harusnya menolak, tentu saja. Ide mengajak Carl pergi ke pesta Miranda bersama aku adalah ide yang sangat buruk. Tapi kamu tidak bisa menolak ajakan gadis seperti Miranda.
                “Yah, sepertinya menyenangkan,” gumamku lalu bersiap menyampaikan beberapa alasan.
                “Bagus,” kata Miranda lalu lompat turun dari wastafel. “Sampai bertemu jam delapan. Rumahku di Lark Drive nomor 94.”
                Dia berlalu sambil mengibaskan roknya yang pendek sebelum aku bisa mengatakan hal lain. Anak lain lari menyusulnya sambil memohon untuk ikut serta.
                Aku hanya diam dan jantungku berdebar keras, memikirkan apa yang akan aku lakukan sekarang.

Senin, 02 Juli 2012

V for Violet - Kathryn Reiss

http://www.bukukita.com/babacms/displaybuku/1493.jpg

Judul : V for Violet
Pengarang : Kathryn Reiss
Penerbit : Kaifa for Teens
ISBN : 2000019001300
Rating : 5 dari 5 bintang

Sinopsis :
Ketakutan Violet akan gempa bumi yang mengguncang San Fransisco Bay Area membuatnya sulit menghilangkan cap bayi pada dirinya. Tapi segalanya berubah ketika keluarganya merenovasi sebuah gedung tua. Ketika sedang membantu saudari-saudarinya membersihkan tempat itu, sebuah gempa bumi menyingkapkan sebuah surat yang dialamatkan kepada Baby V dari tahun 1906dan Violet yakin pesan dalam surat itu ditujukan buatnya. Sesudah itu, lebih banyak lagi surat-surat misterius dari masa lalu yang jatuh ke tangannya setiap terjadi gempa bumi. Para gadis itu berusaha menguak misteri di balik pesan-pesan supranatural itu, tapi seiring dengan semakin seringnya gempa mengguncang kehidupan mereka, mereka menyadari kalau mereka mungkin tidak punya banyak waktu 

Membuat review novel ini cukup memakan waktu bagi saya. Karena saya terakhir membacanya saat masih duduk di bangku SMP kelas 8, sekitar lima tahun yang lalu. Sehingga saya harus mengulang membacanya lagi agar bisa mendapatkan feel dari kisah Violet yang menegangkan ini. Waktu lima tahun tidak membuat saya lantas melupakan betapa keren dan amazingnya novel yang satu ini. Saya harus katakan bahwa Kathryn Reiss adalah seorang penulis yang ajaib walau baru judul ini saja yang sudah baca. Saya rasa cukup pujiannya, saya akan lanjutkan dengan reviewnya.
Violet Jackstone adalah salah satu dari putri kembar tiga keluarga Jackstone. Ia memiliki dua saudari kembar, Jasmine dan Rose. Namun sayangnya fisik Violet yang mirip ayahnya sangat jauh berbeda dengan fisik kedua saudarinya yang identik sama dan mirip dengan ibu mereka. Kondisi fisik Vi juga sangat lemah dan hal itu membuat kedua orangtuanya menjadi overprotektif kepadanya. Semua perbedaan ini membuat Vi menjadi tersisih dari segala hal kembar dan membuat orang-orang tidak pernah menyangka kalau Vi termasuk bagian dari kembar tiga Jazzy dan Rosy. Kedua saudarinya pun terkadang bersikap menyebalkan kepada Vi dengan tidak melibatkan Vi dalam kegiatan kembar mereka. Vi yang juga ingin dianggap sama dengan mereka lalu mulai mengikuti gaya kedua saudarinya. Ia bahkan nekat menyemir rambutnya menjadi berwarna pirang agar sama dengan mereka. Namun sayangnya usaha itu gagal dan rambut cokelatnya malah berubah menjadi ungu.
Suatu hari Vi menemukan sebuah surat tua saat ia sedang membersihkan rumah lama yang akan digunakan untuk toko bunga baru milik keluarganya. Surat yang ditujukan untuk Baby V itu menarik perhatiannya karena nama panggilannya di rumah adalah Baby. Ia awalnya mengira surat itu adalah surat iseng dari kedua saudaranya, namun semakin lama ia semakin sering menemukan surat dan catatan harian yang ditujukan atau berisi tentang kehidupan Baby V yang memiliki dua saudara kembar dan memiliki jantung lemah, layaknya Vi. Semua kejadian yang terjadi di surat dan catatan harian itu ajaibnya selalu terjadi sungguhan di kehidupan Vi. Apalagi Vi mulai sering memimpikan Baby V dalam suratnya. Semua itu awalnya seru sampai surat itu berisi tentang kematian Baby V dan berisi tentang gempa bear yang meluluhlantakkan San Fransisco di tahun 1906. Mungkinkah semua ini ada hubungannya dengan Violet? Dan mungkinkah akan ada gempa besar seperti tahun 1906? Semua rahasianya akan terungkap secara pelan-pelan dan misterius dalam novel ini.
Kenapa saya memberi 5 bintang untuk novel ini? Karena saya sangat menikmati saat-saat membaca novel ini. Rasanya setelah membaca satu lembar maka tidak akan bisa berhenti membacanya. Unsur misterinya sangat terasa dan alurnya tidak mudah ditebak. Selain itu unsur keluarganya pun sangat terasa. Saya dapat merasakan bagaimana sedihnya Violet yang dikucilkan oleh saudaranya namun saya juga paham mengapa kedua saudara kembar Violet tidak ingin Violet memasuki zona ekslusif mereka. Worth to read!

Selasa, 29 Mei 2012

Sapporo No Niji - Hapsari Hanggarini

Judul : Sapporo No Niji
Pengarang : Hapsari Hanggarini
Penerbit : GagasMedia
ISBN : 979-780-560-3
Rating : 3 dari 5 bintang

Sinopsis :
Hajimete atta toki kara kimi ga suki da (Aku mencintaimu sejak pertama kali bertemu)
Semua orang tak henti-hentinya merecokinya dengan pertanyaan yang kurang lebih sama: apa aku sedang jatuh cinta? Tak sepatah kata pun keluar dari mulutku. Namun, setiap kalimenyadari kehadiranmu di sana, aku tak mampu menyembunyikan rona di wajahku. Seperti tunas yang selalu mencari hangat matahari, mataku selalu mencari-cari alasan untuk memandangimu berlama-lama. Semua yang kau lakukan selalu mampu membuatku tergugu.
Kokoro kara kimi wo aishiteru
(Aku mencintaimu dari dasar hatiku paling dalam)
Waktu serasa berhenti saat bersamamu. Kau ada di daftar teratas orang yang selalu ingin kuundang dalam mimpiku. Mengingatmu saja sudah membuatku tersenyum kecil. Menggigit bibir bawahku saat terbawa khayal dan rindu ke dalam dekapmu.
Kimi wa zutto aishiteru
(Aku mencintaimu selama-lamanya)
Jadi, maaf kalau aku terdengar tak sabaran soal ini. Akhirilah masa-masa penantianku ini. Kapan kau akan membisikkan kata cinta itu untukku? Kapan kau membuatku jadi perempuan paling bahagia di muka bumi ini?

 Novel ini saya beli di tengah kesibukan menggarap tugas besar dalam rangka Baca Bareng Fiksi GRI bulan Mei - Juni. Karena tema yang diangkat adalah buku berlatar Asia, maka saya pilih buku ini dengan pertimbangan banyaknya tugas sehingga tidak memungkinkan saya membaca buku yang tebal dengan alur yang rumit.
Dengan membaca sinopsis di belakang buku saja saya cukup dapat menebak kalau inti ceritanya adalah mengenai seorang gadis yang hubungannya digantung oleh laki-laki yang disukainya. Ide cerita yang sederhana memang, namun penulis mengemasnya dengan sedikit kejutan. Namun sayangnya saya tidak cukup menikmati cara penulis menyajikan kejutannya karena saya tidak merasa cukup terkejut. Intinya saya sudah dapat menebak bagaimana kisah hidup tokoh dalam novel ini tanpa perlu menyelesaikan membaca (walaupun saya tetap menyelesaikannya). Hmm .. saya terangkan saja secara gamblang. Jadi di sini diceritakan kalau Lala yang mendapatkan beasiswa di Jepang ingin memunyai kekasih orang Jepang yang berkulit putih dan bermata sipit. Hal ini membuatnya jatuh cinta kepada Yamada Hiroshi yang juga sangat perhatian kepada Lala. Dari sini saja saya sudah bisa menebak kalau pasti laki-laki yang menggantung hubungannya dengan Lala adalah Hiroshi. Di awal cerita diceritakan kalau Hiroshi memiliki seorang adik perempuan bernama Haruhi. Ia diceritakan sedang bertengkar dengan Haruhi karena Haruhi dekat dengan seseorang yang dianggap Hiroshi buruk. Lalu ada deskripsi begini,
'Ha-chan dengan baju seragam SMA yang belum sempat dilepasnya. Dengan kemarahan yang belum reda dia pergi. Saat itu musim gugur sudah akan berakhir. Daun-daun terangkat, melayang, berputar-putar, di atas jalanan, ditiup angin yang berembus kencang. Dingin. Jalanan sepi. Lalu, terdengar suara itu.'
Setelah membaca paragraf tersebut saya yakin kalau Haruhi meninggal dalam sebuah kecelakaan setelah bertengkar dengan Hiroshi. Ditambah lagi di awal novel diceritakan saat Hiroshi pertama melihat Lala ia tampak kaget dan seperti melihat setan. Pastilah Lala mengingatkan Hiroshi kepada Haruhi. Hal ini pula yang menyebabkan Hiroshi sangat menjaga Lala padahal sebenarnya ia tidak mencintai Lala. Hiroshi malah menjodohkan Lala dengan sahabatnya dari Indonesia, Alvin. Alvin sebenarnya adalah sahabat dari kakak Lala yang bernama Aldo. Namun Aldo berpesan agar Alvin tidak perlu memberitahu Lala kalau Alvin mengenal Aldo. Kisah cinta itu lalu berubah menjadi kisah cinta segitiga. Saat Lala sedang berjalan-jalan bersama Alvin dan Hiroshi ia mengobrol dengan pemuda tidak dikenal dan Hiroshi marah besar. Kenapa Hiroshi marah? Saya dapat langsung menebak kalau Hiroshi bukan cemburu melainkan marah karena pemuda itu adalah orang dari masa lalu Haruhi. Tebakan saya ini menguat saat si pemuda yang bernama Daigo ini lalu menjadi orang ketiga yang juga mengejar Lala dan merasa Lala mirip dengan orang yang dikenalnya. Haruhi tentu saja. Saya pun bisa menebak kepada siapa cinta Lala berlabuh pada akhirnya. Hanya satu hal yang tidak bisa saya tebak, yaitu mengapa Hiroshi benci sekali kepada Daigo? Jawabannya ada di buku ini. Silahkan dibaca dan nikmatilah sensasi Sapporo dalam buku ini. Happy reading :)

Jumat, 23 Maret 2012

Cocktails for Three - Sophie Kinsella alias Madeleine Wickham


Judul: Cocktails for Three
Pengarang: Sophie Kinsella alias Madeleine Wickham
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 978-979-22-7102-7
Rating: 3 dari 5 bintang

Sinopsis:
Tiga wanita cerdas dan sukses, bekerja di dunia majalah yang sibuk. Mereka bertemu untuk berbagi koktail dan gosip sebulan sekali.
Roxanne: glamor, percaya diri, memiliki kekasih gelap---dan berharap pria itu akan meninggalkan sang istri dan menikah dengannya.
Maggie: ambisius dan mumpuni dalam pekerjaan, hingga ia menemukan satu hal yang tak dapat diatasinya: menjadi ibu.
Candice: polos, baik hati, jujur---hingga suatu ketika hantu masa lalunya muncul dan mengacau-balaukan hidupnya.
Pertemuan tak disangka-sangka di bar koktail menggulirkan serangkaian peristiwa yang kemudian mengguncang kehidupan mereka dan mengancam akan menghancurkan persahabatan mereka yang unik.


Novel ini adalah hadiah ulang tahun ke-18 saya dari dua orang sahabat, Fithrotul Mumtaz dan Adinda Smaradhana Rachmanto. Thanks, gaes :* Dan bisa dibilang novel ini berbeda dengan novel-nocel yang sebelumnya saya baca. Temanya yang mengenai persahabatan tiga wanita karir sangat 'tidak saya banget' mengingat saya membacanya di usia 18 tahun. Tapi sebenarnya saya lebih bisa menikmatinya daripada membaca teenlit yang menurut saya sangat mudah ditebak. Awal cerita ini berlangsung seperti biasa, persahabatan tiga wanita karir sibuk yang membuat perjanjian untuk selalu bertemu di Manhattan Bar untuk menikmati cocktail dan mengobrol setiap tanggal satu setiap bulan. Mereka sudah memulai rutinitas itu sejak Manhattan Bar masih bar kecil sampai sekarang menjadi bar besar yang terkenal. Namun persahabatan mereka yang awalnya berjalan mulus rusak sejak kedatangan Heather Trelawney. Heather adalah teman Candice saat sekolah dulu. Ayah Candice pernah menipu ayah Heather sampai bangkrut. Dan rasa menyesal itu membuat Candice merasa sangat bersalah dan rela berbuat apa saja untuk Heather. Namun Heather yang menyimpan dendam kepada Candice memanfaatkan kebaikan Candice untuk menjatuhkannya. Candice yang polos tidak menyimpan kecurigaan sedikitpun kepada Heather walaupun kedua sahabatnya sudah memeringatkan ia namun ia malah menganggap kedua sahabatnya iri akan persahabatannya dengan Heather. Hal itu lalu merusak persahabatan mereka sampai akhirnya Candice sadar siapakah yang benar-benar sahabat sejatinya.
Novel ini adalah novel yang komplit menurut saya. Karena ada unsur persahabatan, romantis, dan keluarganya. namun yang menjadi akar dari novel ini tentu saja kisah persahabatan yang manis antara tiga wanita. Novel ini seperti membuktikan kalau persahabatan sejati tidak akan lekang karena apapun.

Sabtu, 03 Maret 2012

The Lorien Legacies: I Am Number Four - Pittacus Lore

Dan akhirnya setelah hampir sebulan tidak menyentuh blog ini, saya kembali. Kesibukan kuliah membuat saya terpaksa hanya menggeletakkan saja buku-buku yang sudah selesai saya baca dengan niat akan dibuat reviewnya entah kapan. Okee, silahkan nikmati review saya :)
Judul : I Am Number Four
Pengarang : Pittacus Lore
Penerbit : Mizan Fantasi
ISBN :9789794336069
Rating : 3 dari 5 bintang

Sinopsis:
Kami ada di antara kalian, di kota kalian, menjadi tetangga kalian, tersamar. Menunggu hari, saat kami saling bertemu, untuk bertempur terakhir kalinya. Bila kami menang, kalian akan terselamatkan.Bila kami kalah, semua akan musnah.

Sepuluh tahun lalu, sembilan anak dilarikan dari planet Lorien yang hancur karena perang. Masing-masing anak itu disembunyikan di berbagai tempat di bumi agar terhindar dari musuh bebuyutan mereka yang kejam, Kaum Mogadorian. Kini satu persatu anak itu terbunuh, sesuai urutan nomornya. Satu. Dua. Tiga. Dan John Smith adalah Nomor Empat.
Namun, John Smith sudah lelah berlari. Di Paradise, Ohio, dia menemukan teman baik dan cintanya. Untuk pertama kalinya ada seorang sahabat, Sam, yang mau menerima ia apa adanya. Dan Sarah, tambatan hatinya. Sarah, yang membuat John mendapatkan kekuatan untuk berjuang dan tak hanya pasrah menjadi buruan.
John tak ingin lagi lari, dia akan melawan. Namun untuk melawan ia harus mengembangkan kekuatannya, Pusaka Lorien, atau Mogadorian akan membantainya. Berhasilkah John mengalahkan kaum Mogadorian? Ataukah John harus hidup diburu, selamanya? Ikuti kisah heroik pelarian Planet Lorien yang diklaim sebagai The Next Twilight Saga ini!

John Smith bukanlah remaja biasa. Ia adalah remaja istimewa yang sebenarnya bukan berasal dari Bumi. Ia dikirim ke Bumi bersama delapan anak lainnya dari planet Lorien karena planet mereka sedang mengalami pertempuran melawan Mogadorian dari planet Mogador. John dan sembilan anak lainnya hidup terpisah karena mereka tidak boleh bersama. Mereka hanya bisa dibunuh sesuai urutan (sejujurnya saya kasihan pada si nomor satu yang akan mati pertama) namun mantera itu akan hilang bila mereka bersama. John dan pengawasnya yang bernama Henri hidup berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain karena Henri merasa hidup mereka tidak akan aman bila menetap di suatu tempat. Sampai akhirnya mereka menetap di Paradise, Ohio. Di tempat inilah John pertama kali menemukan sahabat dan gadis yang ia cintai. Karena itu saat suasana mulai genting John tetap bersikeras tidak mau pindah dan bertekad untuk tidak kabur lagi. Ia akan melawan Mogadorian itu. Maka dimulailah latihan panjang dan perjuangan John untuk tetap bisa bertahan di Paradise, Ohio demi orang-orang yang ia cintai ..

Membaca novel ini membutuhkan waktu yang sangat lama bagi saya. Padahal saya sudah memiliki novel ini sejak awal bulan November namun baru mulai saya baca pertengahan bulan November dan baru saja selesai kemarin. Waaw, sangat lama untuk sebuah novel yang oleh banyak orang dikatakan sebagai novel bagus. Tapi membaca sinopsisnya yang mengatakan kalau novel ini diklaim sebagai The Next Twilight Saga, sepertinya wajar kalau saya membutuhkan waktu lama untuk menamatkannya. Saya bukan penggemar Twilight. Satu-satunya novel karangan Stephenie Meyer yang pernah saya baca hanya New Moon, dan itu hanya 15 halaman awal. Oke, kembali ke I Am Number Four. Saya tidak bilang kalau novel ini jelek. Novel ini bagus juga kalau menurut saya, bahkan saya sempat merasa tidak sanggup berhenti membaca. Yaitu saat John mulai bertempur melawan para mogadorian. Tapi bagian sebelum John bertemu mogadorian berjalan sangaaat lambat sehingga membuat saya bosan. Bagian awal hanya diceritakan bagaimana kehidupan baru John di Paradise. Bersekolah, berlatih, dan pacaran. Tidak ada hal yang seru sehingga saya merasa bosan dan seringkali berhenti membaca dan lebih memilih membaca buku lain. Tapi semua kejenuhan saya terbayar dengan bagian di mana John bertempur melawan mogadorian. Pittacus Lore menceritakannya dengan sangat apik sehingga saya ikut terhanyut dan merasa ikut ada di pertempuran itu. Rasanya sedih saat novel ini akhirnya tamat, tapi beruntung saya sudah membeli lanjutan novel ini: The Power of Six.

Jumat, 03 Februari 2012

The Mediator: Darkest Hour (Masa Terkelam) - Meg Cabot

Judul : The Mediator: Darkest Hour (Masa Terkelam)
Pengarang : Meg Cabot
Penerjemah : Monica Dwi Chresnayani
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 286 halaman
ISBN : 9789792268270
Rating : 4 dari 5 bintang

Sinopsis:
Ketika dibangunkan di tengah malam buta oleh hantu Maria de Silva dari abad ke-sembilan belas, Suze tahu itu bukan kunjungan biasa---apalagi karena ada pisau ditempelkan ke lehernya. Semasa hidupnya dulu, Maria adalah tunangan Jesse---yang tewas dibunuh 150 tahun silam. Jesse yang dicintai Suze. Jesse si hantu tampan.
Maria mengancam Suze: pembangunan dek di halaman belakang rumah keluarga Suze harus dihentikan. Suze tahu benar apa---atau lebih tepatnya siapa---yang tidak ingin ditemukan oleh Maria. Tapi apakah bila ia memecahkan misteri pembunuhan Jesse, Suze akan kehilangan lelaki itu selamanya? Apakah Suze sudah siap menerima risiko kehilangan hantu cowok yang telah merebut hatinya?

Review buku pertama walaupun novel ini bukan buku pertama dalam Mediator the Series melainkan buku ke empat. Buku ini masih bercerita tentang Susannah 'Suze' Simon, seorang remaja 16 tahun yang bersekolah di Junipero Serra Mission School dan dapat berkomunikasi dengan hantu. Dalam petualangan ke empat ini, Suze berhadapan dengan arwah penasaran Maria de Silva Diego, sepupu Hector 'Jesse' de Silva sekaligus mantan pacar Jesse. Suze yang menyukai Jesse jelas-jelas tidak suka dengan kemunculan Maria apalagi Maria datang dengan tidak sopan, dengan menodongkan pisau pada Suze yang saat itu sedang enak-enak terlelap. Ternyata Maria yang datang bersama Felix Diego, suaminya, agar Andrew 'Andy' Ackerman yang adalah ayah tiri Suze menghentikan penggalian di belakang rumahnya. Maria muncul setelah Andy dan Dopey alias Bradley 'Brad' Ackerman menemukan kaleng yang berisi surat-surat dari Maria untuk Jesse. Dan ternyata apapun yang ada di lubang penggalian itu telah membongkar misteri kematian Jesse. Sebenarnya apakah yang ada di lubang penggalian itu? Dan apabila misteri kematiannya telah terungkap, apakah Jesse akan pergi ke alam sana dan meninggalkan Suze yang sangat mencintainya?
Selain pengungkapan misteri kematian Jesse, dalam novel ini juga ada tokoh baru yang akan memegang peranan penting di buku-buku The Mediator selanjutnya. Dia adalah Paul Slater, kakak dari anak yang diasuh oleh Suze selama ia bekerja paruh waktu menjadi pengasuh anak di Pebble Beach Hotel and Golf Resort. Tapi dalam nomor ini tidak banyak yang diungkap dari Paul Slater, hanya diceritakan ia adalah remaja 16 tahun, anak orang kaya yang menyebalkan. Namun menjelang akhir cerita diceritakan kalau Paul ternyata memiliki kemampuan yang tidak biasa, ia dapat berkeliaran ke dunia orang mati dengan bebas sesuka hatinya (uups, spoiler). Dalam buku ini lebih banyak diceritakan tentang Jack Slater yang rupanya juga adalah mediator yang masih berumur 8 tahun. Di awal cerita Jack adalah anak yang menyebalkan, cupu, manja namun setelah Suze mengajarinya ilmu dasar menjadi mediator, Jack menjadi anak yang ceria dan usil selayaknya anak 8 tahun lainnya. Dan Jack juga berperan cukup besar dalam membantu Suze meneyelesaikan urusannya dengan Maria dan Felix. Bisa dibilang kalau tidak ada Jack maka Suze bisa saja tewas.
Secara keseluruhan saya sangat menikmati novel ini karena jalan ceritanya yang cepat dan kasusnya yang cukup menegangkan. Menegangkan karena Suze berhadapan dengan hantu cewek jaman dulu psikopat yang tidak segan membunuh demi dirinya sendiri. Hanya saja cover edisi Indonesia ini kurang keren kalau menurut saya karena Jesse di situ digambarkan seperti remaja tanggung dengan kaos oblong dan celana jeans dan berwajah datar. Sangat jauh dengan penggambaran Jesse seperti di bukunya. Namun setelah melihat cover-cover edisi lainnya, ternyata tidak ada yang cukup keren menurut saya hehe. Yang paling saya suka adalah cover edisi USA yang diterbitkan oleh Simon and Schuster. Berikut covernya :
Dan setelah googling kesana kemari saya juga dapat beberapa gambar cover Darkest Hour edisi lain:
Ini versi USA yang diterbitkan oleh HarperCollins

Ini versi UKnya yang berjudul Young Blood

Latar belakang diciptakannya novel ini karena pada tahun 1994 Meg kehilangan ayah tercintanya. Ia dan adik laki-lakinya jadi membayangkan bagaimana seandainya ada orang yang bisa berkomunikasi dengan hantu. Latar belakanga dari novel ini diambil di Carmel karena semasa remajanya Meg memang hidup di sana bersama kelaurganya dan ia bersekolah di Junipero Serra Mission School. Walaupun begitu, tokoh-tokoh dalam novel ini semuanya hanya fiktif belaka. Meg Cabot yang pada mulanya berencana menerbitkan 8 buku dalam seri ini menemui kendala karena penerbit The Mediator yang pertama yaitu Simon and Schuster hanya mau menerbitkan 4 buku dan menolak menerbitkan 4 buku lainnya. Dan setelah itu Meg mengarang Princess Diaries the Series yang menjadi best seller. Dan penerbit Princess Diaries, yaitu HarperCollins bersedia menerbitkan semua buku The Mediator yang oleh Meg dijadikan 6 seri saja.